Siswi Gantung Diri Karena Hasil UN Jelek, Siapa yang Salah, Guru atau Orang Tua?

Siswi Gantung Diri Karena Hasil UN Jelek, Siapa yang Salah, Guru atau Orang Tua?

Siswi Gantung Diri Karena Hasil UN Jelek, Siapa yang Salah, Guru atau Orang Tua?

Siswi Gantung Diri Karena Hasil UN Jelek, Siapa yang Salah, Guru atau Orang Tua? Pengumuman hasil UN (Ujian Nasional) tingkat SMP baru saja selesai diumumkan atau tepatnya pada tanggal 2 Juni 2016 kemarin. Akan tetapi pengumuman hasil UN tersebut berujung duka karena ada salah satu siswi dari SMPN 2 Manisrenggo yang mengakhiri hidupnya dikarenakan hasil UN tidak memuaskan atau tidak sesuai dengan yang diharapkan

Miris dan ironis kalau mendengar berita seperti ini. Siapa yang harus disalahkan ketika anak-anak kita sudah berperilaku diluar batas kemampuan mereka yang tidak bisa kita bayangkan, apa yang tidak bisa mereka lakukan ternyata dengan sangat terpaksa mereka lakukan? Orang tua atau guru? Atau anak itu sendiri? Pendidikan keluarga atau pendidikan sekolah yang kurang tepat dalam memberikan bimbingan kepada anak-anak kita

Siswi Gantung Diri Karena Hasil UN Jelek, Siapa yang Salah, Guru atau Orang Tua?' src=
Ketika ada anak didik kita, anak-anak kita berperilaku diluar batas kewajaran, maka sepatutnya lah sebagai orang tua baik itu orang tua kandung atau orang tua sebagai guru. Ingat, ketika anak sudah mulai sekolah, maka mereka sudah memiliki dua orang tua yaitu orang tua kandung dan guru

Orang tua kandung bisa memberikan perhatian dan bimbingan penuh baik itu di rumah ataupun disekolah. Dan guru bisa memberikan perhatian dan bimbingan di sekolah dan juga memperhatikan apa yang trjadi di rumah. Dan persamaan kedua orang tua ini adalah sama-sama memiliki hak untuk memarahi atau mengawasi secara ketat proses belajar anak, bahkan sampai dilakukan hukumana buat anak sampai batas yang tidak wajar

Pernahkah bapak, ibu, gur memperlakukan anak-anak seperti itu? Kami yakin masih ada orang tua baik itu orang tuan kandung ataupun guru memberi pengajaran terlalu berlebihan dan ujung-ujungnya menghukum anak sedemikian rupa. Hukuman yang diberikan kepada anak tidak hanya dalam bentuk hukuman fiisk, malah hukuman yang paling bahaya yang diterima oleh anak adalah hukuman mental. Anak-anak dipaksa belajar, dipaksa ikut les private, dipaksa tidak boleh bermain, dipaksa melakukan dibatas kemampuan sang anak dan hasil akhir yang didapat tidak hanya mengecewakan orang tua atau guru tapi anak lah yang lebih tertekan, anak lah yang lebih berat memikul beban dari pada orang tua atau guru

Jika anak tersebut tidak mampu memberikan yang terbaik, tidak mampu memmenuhi keingina orang tua, tidak mampu menuruti kemauan guru, maka akan akan lebih cenderung banyak diam karena sudah ada tekanan mental yang harus mereka pikul, beban mental yang sepatutnya tidak harus mereka terima

Untuk itulah, wahai para orang tua dan guru, didiklah anak-anak kita dengan baik. Kalau anak tidak mampu mengerjakan sesuatu yang kita inginkan, jangan dipaksa, bimbinglah dengan baik, dengan sabar dan jangan sekali-kali memberikan hukuman fisik apalagi hukuman mental yang bisa mengacaukan proses berpikir mereka, jangan. Tapi yang perlu diperhatikan juga, membiarkan anak bukannya membuat anak menjadi manja, ini beda, memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak mereka mampu untuk melakukan bukan termasuk dalam anak dengan kategori manja. Beda dan ini harus dipahami oleh orang tua dan guru

Dan dengan adanya kejadian yang menimpa siswi tersebut, ada suatu ungkapan yang saat sedang viral di sosial media dan sengaja kami tulis ulang diisi agar kita semua tahu kalau anak yang kita lahirkan tidak bisa menjadi seperti orang tuanya ataupun keinginan orang tuanya...

Kepada Para Orangtua,

Ujian anak Anda telah selesai . Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya.

Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika.

Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra.

Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tak akan berarti.

Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika... di sekolah.

Ada calon photografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini.

Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Katakan saja: "tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian." Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini.

Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka.

Lakukanlah ini, dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah takk ban mencabut impian dan bakat mereka.

Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Semoga dengan adanya artikel ini, kita sebagai orang tua hanya berpikir sesaat saja, tidak hanya memikirkan kepentingan orang tua, guru atau sekolah. Tapi berpikirlah bagaimana mendidik anak dengan baik sehingga membuat mereka menjadi nyaman dalam bermain dan belajar. Stop Kekerasan Terhadap Anak!
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar